XYZ of War Part I : Perang Atas Nama Agama

20.44 Arie Akbar 1 Comments

"Nervos Belli Pecuniam" (urat nadi Perang adalah Uang)
Marcus Tulius Cicero, Politikus & Orator Romawi, 49 SM

Konten : Sisi kotor perang yang ditutupi, dirahasiakan & disembunyikan dalam kegelapan. Pemaparan Fakta-Fakta berdasarkan testimoni / kesaksian tokoh penting, Lembaga Dunia sekelas PBB & Uni Eropa, Pejabat teras atas negara superpower, mantan dinas intelijen MI6 & CIA, riset peneliti ternama, Buku-Buku yang ditulis para ahli pada bidangnya, investigasi kantor berita tertua dunia seperti New York Times, Reuters, & BBC, dan referensi tambahan dari ensiklopedia online Wikipedia.
Perhatian : Artikel ini memaparkan Fakta-Fakta dari sumber yang sangat Kredibel, Bukan teori konspirasi, Bukan Cocoklogi.

DAFTAR ISI
BAGIAN PERTAMA : Pembukaan
Perang Kotor di Tanah Suci
1. Awal dari Segalanya
2. Kolaborasi Militer & Bisnis
3. Berbagi Kue dengan sang Adik
4. Proxy War (Perang Boneka)
5. Mempersenjatai Taliban & Osama
6. Muamar Khadafi yang Selingkuh
7. Gulingkan Assad untuk Lemahkan Rusia
8. Induk Semang Terorisme Global

BAGIAN KEDUA : Lanjutan
Perang adalah Bisnis
1. Proyek Hitler
2. Menaklukkan Dunia dengan Hutang
3. Pembiayaan Agresi Militer Belanda
4. Kennedy Harus Mati
5. Korporasi Dibalik 911
6. Kejanggalan-kejanggalan 911
7. Kejanggalan 911 Part 2

BAGIAN KETIGA : Penutupan
Penguasa Abad Milenium
1. Penguasa Abad Milenium Part 1
2. Penguasa Abad Milenium Part 2

Selamat membaca.

BAGIAN PERTAMA : Pembukaan
Perang Kotor di Tanah Suci
Banyak aspek yang membentuk "wajah" carut marut Timur Tengah seperti yang kita kenal sekarang. Aspek yang mayoritas populasi dunia (termasuk anda) sering kurang jeli menangkapnya. Aspek seperti: Geopolitik, ekonomi, komoditi geografis, kepentingan negara-negara superpower, tak ketinggalan perseteruan abadi antara dua blok besar dunia: Barat VS. Timur.
Hal ini diperparah oleh pembodohan sistematis yang dilakukan media, yang dengan sengaja menyunting sisi kompleks & mensimplifikasi berita menjadi sebuah drama sensasional demi rating. Seperti (katakanlah) konflik Israel-Palestina yang digoreng & dikemas ulang menjadi sebuah opera sabun "perang agama" yang semakin memperkeruh penilaian khalayak awam.
yang disunting oleh Media : Demografi penduduk Palestina yang terdiri dari tidak hanya Muslim, tapi juga Nasrani, bahkan berpaham Komunis. Media dengan sengaja menggiring opini "Arab Palestina = Muslim" untuk justifikasi tema perang agama yahudi VS. Islam.
Pertemuan PFLP (front komunis Palestina). Fakta banyaknya Arab Palestina berhalauan Komunis yang sengaja disunting & tidak disajikan oleh Media

Seorang Muslim anggota partai Komunis di Timur Tengah. Sebuah pemandangan yang mungkin akan sulit dicerna oleh banyak orang di tanah air yang telah dicuci-otak puluhan tahun oleh Pembodohan Rezim ORBA untuk percaya "Komunis adalah Atheis anti Islam"


yang disunting oleh Media : Fakta pasukan IDF (militer Israel) terdiri dari banyak tentara Muslim. Informasi mencerdaskan seperti ini malah seolah sengaja diedit dari reportase, dijauhkan dari jangkauan audiens, demi membangun tema sesat "perang agama" demi sensasi & rating.
Sumber : Republika

Pembodohan sistematis media yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, melahirkan pandangan Naif yang memandang segalanya "hitam putih" disebabkan oleh gagal memahami aspek-aspek penting Konflik Berdarah Timur Tengah, yang (sialnya) memang disembunyikan dari jangkauan khalayak awam.

Tapi sudah cukup! Kita stop pembodohan sampai disini!

Pembukaan : 1. Awal dari Segalanya
Perlu anda pahami bahwa sejak ditemukannya moda transportasi berbahan bakar minyak (BBM), Minyak telah menjadi Komoditas no.1 dunia abad ke-20, dan Timur Tengah adalah wilayah dengan kandungan minyak terbesar dunia dengan akses termudah, membuatnya menjadi wilayah yang paling vital & strategis.
Moda transportasi BBM diciptakan oleh Peradaban Barat, seperti banyak teknologi yang kita nikmati sekarang (seperti satelit, TV, internet, dll). Kita harus tulus mengucapkan terima kasih kepada Peradaban Barat atas kenikmatan ini. Dan adalah peradaban Barat juga yang menemukan ladang minyak kaya di Timur Tengah.
Semua berawal ketika tim eksplorasi yang dikirim oleh William Knox D'Arcy (pengusaha Irlandia) menemukan ladang minyak luas di Persia (sekarang Iran), kemudian bersama Burmah Oil Co (BUMN Inggris) mendirikan APOC (Anglo Persian Oil Company), korporasi minyak milik Barat pertama di Timur Tengah, nantinya menjadi British Petroleum (BP Plc).
Menyadari nilai strategis komoditi yang satu ini, Barat mengirim sepasukan peneliti Minyak ke Timur Tengah, dan ladang-ladang minyak besar lainnya pun ditemukan, dari Semenanjung Arab sampai Laut Kaspia, pantai utara Afrika, di daerah-daerah yang kita kenal sekarang dengan nama Arab Saudi, UEA, Kuwait, Irak, Suriah, sampai Libya dan Aljazair.
Penemuan ini adalah Game Changer yang merombak total kebijakan luar negeri Barat dalam sekejap mata. Timur Tengah menjadi pertaruhan besar bagi konstelasi politik yang mampu mendikte peta kekuatan dunia di masa mendatang. Dan satu-satunya penghalang adalah Kekaisaran Ottoman yang saat itu menguasai hampir seluruh Semenanjung Arab. Ottoman harus pergi.
Rekomendasi bacaan:
"THE PRIZE: Epic Quest for Oil, Money, & Power (Simon Schuster) by Daniel Yergin

Pembukaan : 2. Kolaborasi Militer & Bisnis
Setelah sadar perang terbuka head to head tidak akan mempercepat proses "pendongkelan" Ottoman dari Timur Tengah, peradaban Barat menemukan metoda lebih efektif & mematikan untuk digunakan kepada suku barbar penunggang unta padang pasir ini, yakni: Perang Intelijen.
Militer Inggris lalu mengirim perwira-perwira jenius, diantaranya sang Legenda T. E. Lawrence, yang membaur & sukses memimpin pemberontakan Arab tahun 1916. Sejarah ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul Lawrence of Arabia, dibintangi aktor legendaris Peter O'Toole (alm), yang menceritakan secara mendetail kejeniusan seorang Kapten Intelijen Inggris menanamkan ide "merdeka" kedalam pikiran Arab kemah Bedouin, bahkan mempersatukan klan-klan yang saling bermusuhan untuk bersatu melawan Ottoman. dan Kekaisaran Ottoman pun sukses "didongkel" dari Timur Tengah hanya dalam waktu setahun!
WIKIPEDIA: T. E. Lawrence (Lawrence of Arabia)
WIKIPEDIA: Arab Revolt

Catatan samping: Kesuksesan T.E. Lawrence memimpin pemberontakan Arab yang menggulingkan Ottoman kelak akan menjadi Blue Print / SOP untuk operasi-operasi serupa terhadap rezim-rezim tidak ramah kepada barat di masa depan, atau yang kita kenal sekarang sebagai Proxy War (perang boneka / perang titipan / perang jarak jauh).
Wilayah Ottoman pun dipartisi oleh Barat, melalui perjanjian The Armistice of Mudros tertanggal 30 Oktober 1918. Dilanjutkan dengan perjanjian Sykes-Picot , lalu Perjanjian Treaty of Sèvres , perjanjian bagi-bagi potongan kue, Inggris mendapatkan Suriah, Trans-Yordania dan Libanon. Palestina juga resmi menjadi British Mandate (dibawah kuasa Inggris), yang nantinya menjadi landasan untuk PM Inggris Arthur Balfour menerbitkan Balfour Declaration (Deklarasi Balfour) yang menjadi landasan hukum awal pembentukan negara Israel di wilayah koloni Inggris: Palestina. Lalu pada 29 November 1947, Majelis Umum PBB menyetujui rencana partisi Palestina menjadi dua negara.

Pembukaan : 3. Berbagi Kue dengan sang Adik
Inggris mengirimkan atase militer Kapten W. Shakespear untuk bertemu dengan Ibnu Saud (calon raja Arab Saudi), dan membuat perjanjian Darin , yang menetapkan wilayah Arab Saudi dibawah proteksi Inggris. Sejak saat itu, Kerajaan Inggris tidak hanya memberikan suplai persenjataan kepada keluarga Ibnu Saud, tapi juga memberikan tunjangan uang sebesar 5.000 Pound per bulan, bahkan memberikan gelar Sir (ksatria) dalam Order of Bath kepada Ibnu Saud.

WIKIPEDIA: Ibn Saud

Memuluskan jalan untuk Rockefeller, pemilik konglomerasi minyak terbesar dunia Standard Oil untuk mendapatkan Konsesi Minyak Arab Saudi. Standard Oil Company of California (SOCAL), nantinya berubah nama menjadi Chevron, mendirikan Arabian American Oil Company (ARAMCO). Standard Oil of New Jersey, nantinya menjadi Exxon, Standard Oil of New York, nantinya Mobil Oil, menguasai ladang-ladang minyak Saudi. Pada tahun 1949, BP dan Shell menguasai 52% dari seluruh ladang minyak di Timur Tengah, dan Chevron, Exxon, Mobil, Texaco menguasai 42% dari total wilayah,

Arab Saudi menasionalisasi ARAMCO dengan membeli 100% pada tahun 1980. Namun pada prakteknya, 4 raksasa minyak Amerika: Chevron, Exxon, Mobil & Texaco masih mengoperasikan ARAMCO. Pada tahun 1990, Exxon melaporkan saham kepemilikan sebesar 28,33% di ARAMCO kepada SEC (Bapepam untuk Wall Street), 10 tahun setelah nasionalisasi, Exxon masih memiliki 28,33% saham ARAMCO.

Seluruh kilang minyak pun masih dikelola oleh Mobil Oil & Shell.
- Kilang Minyak Yanbu Arab Saudi msh kerjasama dgn MOBIL
- Kilang minyak di Jeddah, 50% sahamnya dimiliki SHELL
- Kilang Minyak PetroLube Arab Saudi sahamnya dimiliki MOBIL
- Junail Industrial City 50% sahamnya dimiliki SHELL.
- Saudi Petrochemical Company 50% sahamnya dimilik SHELL
- Al Jomaih Lubricating Oil 49% saham dimilik SHELL
- Al Jubail Petrochemical Company mayoritas saham dikuasai EXXON
Rekomendasi bacaan:
“Big Oil & Their Bankers In The Persian Gulf: Four Horsemen, Eight Families & Their Global Intelligence, Narcotics & Terror Network” (Bridger House Publishing) by Dean Henderson

di Persia, militer Inggris menduduki wilayah Iran & menjalin kerja-sama dengan rezim ramah kepada Barat Monarki Mohammad Reza Pahlavi sebagai Shah (raja Iran), meresmikan Iran sebagai negara partner minyak terbesar setelah Arab Saudi. Namun pada 1951, gerakan Nasionalis dipimpin PM Iran Mohammad Mosaddegh mencoba membatasi kekuasaan monarki Shah Pahlavi, dan mencoba menasionalisasi Anglo-Iranian Oil Company (BP).
Inggris dibantu C.I.A. (dinas intelijen Amerika) melancarkan Perang Intelijen menggulingkan PM Mossadegh melalui provokasi Kudeta yang dikenal dengan 28 Mordad Coup. Pada Agustus 2013, C.I.A. resmi mengakui operasi intelijen "pelengseran" PM Iran Mossadegh melalui penggerakan massa, menyogok politisi & petinggi militer Iran. British Petroleum (BP) menyumbang uang sebesar $25.000 untuk operasi tsb.
WIKIPEDIA: 1953 Iranian coup d'état
BBC: CIA documents acknowledge its role in Iran's 1953 coup

CBB: CIA acknowledges role in '53 Iran coup

Nasionalisme PM Mossadegh berhasil dipatahkan, namun kemesraan ternyata tak bertahan lama, karena monarki Pahlavi akhirnya berhasil digulingkan oleh Islam Fundamentalis Ayatollah Khomeini, yang mendirikan Republik Islam Iran, dikenal juga dengan Iranian Revolution 1979. C.I.A. membiayai Jendral Oveisi, petinggi militer loyalis Shah Pahlavi. Kapal perang USS Constellation berangkat dari Subic Bay Filipina menuju laut Arab untuk mendukung penghasutan "perang saudara" antara Loyalis Pahlavi V.S. Rezim Khomeini. Namun kali ini, operasi yang dibiayai oleh Rockefeller (Chevron) menemui kegagalan.

Pembukaan : 4. Proxy War (Perang Boneka)
Rekomendasi Zbigniew Brzezinski, National Security Advisor Gedung Putih kepada Presiden Carter: "Saddam Hussein bisa dimanfaatkan untuk menumbangkan rezim anti-barat Ayatollah Khomeini", ternyata bagai gayung bersambut diterima dengan baik oleh Saddam Hussein yang memang punya ambisi ekspansionis.
Tanpa menunggu lama, C.I.A buka kantor di Baghdad. A.S. menerbitkan peringatan ke negara-negara sekitar akan kemungkinan eskalasi antara Irak dan Iran. Washington bahkan memberikan ultimatum kepada Soviet agar tidak turut campur. Saddam Hussein melihat ini sebagai "lampu hijau", dan agresi militer ke Iran pun dimulai pada 22 September 1980.
A.S. cairkan bantuan berlabel "Economic Aid" bernilai milyaran Dollar, suplai senjata, suplai amunisi, sampai transfer teknologi militer. C.I.A. memberikan arahan Tactical untuk setiap operasi militer Irak, memberikan bocoran intel, bahkan pelatihan Special Ops. Departemen Defense Intelligence Agency Pentagon tak ketinggalan membuka kantor di Baghdad berikan arahan taktis langsung kepada A.U. Irak. Personel militer Irak menerima pelatihan dari Satuan Khusus Green Berets di Fort Bragg, North Carolina, juga pelatihan untuk Pilot Helikopter.
Tak hanya itu, militer A.S. juga terlibat langsung melakukan serangan terhadap target-target militer Iran. C.I.A. melancarkan Operasi Eager Glacier sabotase target-target strategis di Iran menggunakan Agen Lapangan. Kapal perang USS Stark menyerang kapal-kapal Minyak Iran. Perang baru berakhir 8 tahun kemudian melalui intervensi PBB pada 20 Agustus 1988 Resolution 59, setelah menewaskan lebih dari 1.000.000 personel militer & sipil pada kedua belah pihak.
WIKIPEDIA: United States support for Iraq during the Iran–Iraq war
Rekomendasi bacaan:
Web of Deceit: Western Complicity in Iraq (Other Press) by Barry Lando
The death lobby: how the West armed Iraq (Houghton Mifflin) by Kenneth Timmerman
Spider's Web: The Secret History of How the White House Illegally Armed Iraq (Bantam Books) Alan Friedman

Pembukaan : 5. Mempersenjatai Taliban & Osama
Sebagai rival utama, Soviet Rusia pun berusaha untuk mendapatkan potongan kue di Timur Tengah, dan menginvasi Afghanistan pada tahun 1979. Respon dari Presiden Jimmy Carter adalah menerbitkan Carter Doctrine yang kurang lebih berbunyi, "Amerika Serikat akan menggunakan kekuatan Militer bila diperlukan untuk mempertahankan kepentingan di Teluk Persia".
WIKIPEDIA: Carter Doctrine
Pada 3 Juli 1979, Presiden Carter menandatangani PO (perintah operasi) Operation Cyclone yang menugaskan C.I.A untuk melakukan Covert Op (operasi intelijen) membiayai Mujahidin Afghanistan (Taliban). Pendanaan Etape Pertama dimulai 20-30 juta Dollar per tahun pada 1980, diujung tombaki oleh National Security Adviser, Zbigniew Brzezinski, diteruskan Presiden Ronald Reagan menjadi 630 juta Dollar per tahun pada 1987, yang memberikan delegasi kepada Senator Charlie Wilson, sampai akhirnya Soviet sukses diusir dari Afghanistan pada tahun 1989.
WIKIPEDIA: Operation Cyclone
Presiden Ronald Reagan bertemu petinggi Taliban di Gedung Putih, Washington, 1985
Operasi mempersenjatai Mujahidin (Taliban) Afghanistan ini melibatkan sukarelawan Arab Saudi yang dikomandani oleh Osama Bin Laden, yang mana militan asuhan Osama ini nantinya menjadi cikal bakal organisasi teroris Al-Qaeda. Berikut ini adalah video testimoni Hillary Clinton dihadapan Kongres (DPR AS) mengakui bahwa Taliban & Al-Qaeda (jaringan teroris Salafis Wahabis) memang besar karena dibiayai oleh Amerika.
Osama Bin Laden dipuji sebagai pahlawan yang mengusir Soviet dari Afghanistan pada artikel Koran Independent Edisi 6 Desember 1993
Rekomendasi bacaan:
Holy War Inc (Free Press) by Peter Bergen

Pembukaan : 6. Muamar Khadafi yang Selingkuh
Pada tahun 2009, Muamar Khadafi membuat pernyataan di depan mahasiwa Georgetown University Amerika bahwa ia mempertimbangkan untuk menasionalisasi Libyan Oil. Lalu pada awal tahun 2011, Khadafi menyatakan bahwa ia akan membatalkan kontrak minyak dengan Barat & memberikan kontrak tsb kepada Tiongkok.
ALJAZEERA: China's interests in Gaddafi

Pada tahun itu juga, pemberontakan Libya pecah & bereskalasi menjadi perang saudara yang akhirnya menggulingkan Muamar Khadafi. Berdasarkan penelitian The Jamestown Foundation Institute for Research and Analysis Washington, mereka menemukan bukti pemimpin pasukan pemberontak Libya adalah seorang agen CIA. Khalifa Haftar, komandan pasukan pemberontak Libya yang menggulingkan Khadafi mengaku ia seorang kolaborator C.I.A., bahkan juga mengakui C.I.A. mendanai & mempersenjatai militan anti Khadafi di Libya.

Dalam sebuah "kebetulan" yang luar biasa, C.I.A. melepas 3 tahanan anggota Al-Qaeda: Abdel Hakim al-Hasady, Salah al-Barrani, Sufyan Ben Qumu, dari penjara keamanan maksimum Guantanamo Bay bertepatan dengan pecahnya pemberontakan Libya, yang kemudian ketiga teroris Al-Qaeda tersebut bergabung dengan pasukan pemberontak Libya.

Operasi C.I.A di Libya saat penggulingan Khadafi juga dilansir oleh New York Times, bersama dinas intelijen Inggris MI6 membantu mengumpulkan informasi sensitif di Libya. juga diketahui ada perintah dari Obama ke C.I.A untuk persenjatai pemberontak, yang mana NATO akhirnya terang-terangan melakukan pemboman terhadap posisi militer Khadafi yang memberikan kemenangan kepada pasukan pemberontak.

Pembukaan : 7. Gulingkan Assad untuk Lemahkan Rusia
Sudah bukan rahasia rezim Assad Suriah adalah sekutu kuat Rusia (selain Iran) di Timur Tengah. dan dalam upaya pelemahan musuh bebuyutan yang satu ini, Amerika tidak segan-segan & terang-terangan memberikan pendanaan & persenjataan kepada Teroris Al-Qaeda yang berkamuflase sebagai "Pemberontak Suriah pejuang demokrasi".
Untungnya berkat kegigihan para jurnalis dari kantor berita tertua dunia seperti New York Times yang telah hadir sejak tahun 1850-an (BBC baru ada tahun 1920-an), mata dunia dibuka akan kenyataan di lapangan bahwa Teroris Al-Qaeda berperan penting dalam pemberontakan di Suriah sejak tahun 2012. Al-Qaeda juga membentuk Nusra Front (Al-Qaeda cabang Suriah) sejak 23 Januari 2012.
WIKIPEDIA: al-Nusra Front

Bahkan setelah mengetahui pemberontak Suriah bekerja-sama dengan Teroris Al-Qaeda, C.I.A. tetap terang-terangan mensuplai persenjataan dengan dalih hanya memberikannya kepada "pemberontak moderat", seperti yang dilansir oleh CNN pada pertengahan 2013 berikut ini:

"hanya memberikan senjata kepada pemberontak moderat" FSA (Free Syrian Army) ini tentunya adalah dalih yang diberikan Amerika Serikat untuk mempersenjatai Teroris Al-Qaeda (Nusra & ISIS) yang memegang peranan dominan pada pemberontakan Suriah, seperti investigasi jurnalis BBC terhadap pemberontak moderat FSA yang bernama Omar Azba, yang tertangkap basah melakukan radikalisme SARA, dan bercengkrama dengan teroris ISIS.
Seperti yang diungkapkan oleh seorang Senator AS Rand Paul (R-Ky) dari negara bagian Kentucky ini, "America has been funding people who are allies with ISIS... ISIS is stronger because we've been funding Islamic rebels in Syria." Terjemahan: America membiayai sekutu ISIS.. ISIS menjadi kuat karena kita (AS) membiayai pemberontak Suriah.
Testimoni Senator Rand Paul:
Bahkan pada satu wawancara yang disiarkan oleh sebuah televisi swasta Amerika, Kandidat Presiden AS yang juga Senator John McCain mengakui Gedung Putih Washington pernah memberikan rekomendasi untuk mempersenjatai ISIS, seperti yang dapat disimak dalam video berikut ini:
Pada tahun 2013, John McCain pun terang-terangan berangkat ke Suriah bertemu dengan para teroris FSA, Al-Qaeda, bahkan Emir ISIS Abu Bakar al-Baghdadi diduga berada di ruangan yang sama dengan John McCain sebagai partisipan rapat yang membicarakan suplai senjata dari Amerika kepada para "pemberontak".
NBC: Sen. John McCain meets with Free Syrian Army leader
BBC: Sen McCain called for the US to provide military aid to Syrian insurgency
Obama juga tak ketinggalan terang-terangan melobi Kongres (parlemen AS) meminta persetujuan atas alokasi dana sebesar 500 juta Dollar untuk membiayai & mempersenjatai "pemberontak Suriah" meskipun telah begitu banyak fakta yang menunjuk bahwa pemberontakan tersebut dikomandoi oleh jaringan teroris Al-Qaeda yang melakukan serangan 911, yang kini berlabel "Nusra Front / Jabhat Nusra" & ISIS.
BBC: Syria crisis: Obama asks Congress for $500m for rebels

Semuanya demi upaya Barat untuk melemahkan musuh bebuyutan Blok Timur (Rusia) dengan dalih "Demokrasi" diatas penderitaan bangsa Suriah. Ratusan ribu jiwa rakyat sipil melayang terjepit ditengah penanganan dingin & kejam rezim Assad, dan kebiadaban teroris pemberontak yang melakukan pembersihan etnis & genosida, sebuah tragedi kemanusiaan yang belum terlihat tanda-tanda usai.

Pembukaan : 8. Induk Semang Terorisme Global
Berdasarkan keterangan mantan Direktur C.I.A. James Woolsey, sejak akhir 1970-an & awal 1980-an, Arab Saudi telah menghabiskan 90 milyar Dollar untuk penyebaran aliran Salafi Wahabi, dalam bentuk sumbangan ke negara-negara berkembang (seperti Indonesia) dengan "kemasan" dana pembangunan Mesjid, dana operasional Madrasah, Pesantren, & Islamic Center, pembiayaan pendidikan calon Ustadz. distribusi buku-buku agama, materi akademis, yang sayangnya disisipkan materi Radikal seperti penghasutan kebencian (anti yahudi, anti syiah, dll), provokasi konflik & terorisme.
Dalam sebuah artikel "Saudi Arabia's Export Of Radical Islam" yang ditulis oleh jurnalis & pemerhati terorisme Adrian Morgan, donatur Arab Saudi dari kalangan pengusaha sampai anggota keluarga kerajaan, diketahui telah mentransfer dana ratusan juta dollar ke teroris Al-Qaeda. Bahkan UN Security Council (Dewan Keamanan PBB) yang menggunakan jasa Jean-Charles Brisard (ahli teroris no.1 dunia) telah mengetahui fakta tersebut sejak tahun 2002.
Hal senada dilaporkan oleh Laurent Murawiec, seorang advisor & defence analyst di Kementrian Prancis, yang ia tuangkan dalam salah satu bukunya yang berjudul "Princes of Darkness: Saudi's Assault on the West", berdasarkan Laporan yang diserahkan Jean-Charles Brisard kepada DK PBB pada 19 Desember 2002 yang berjudul "Terrorism Financing: Roots and Trend of Saudi Terrorism Financing", Arab Saudi diketahui telah mentransfer sampai total 1,5 milyar Dollar ke jaringan teroris Al-Qaeda hanya sampai tahun 2002 saja.
Ebook: Princes of Darkness by Laurent Murawiec

Adrian Morgan pada artikelnya "Saudi Arabia's Export Of Radical Islam" juga menyertakan laporan dari FBI Joint Terrorism Task Force, bahwasanya FBI telah mengetahui sejak tahun 2002 Yayasan Al-Haramain dibawah kendali Pangeran Salman (sekarang Raja Arab Saudi), membiayai operasi teroris Al-Qaeda, bahkan sejak sebelum serangan 911.
Hal senada dilaporkan oleh Harry Helms, seorang peneliti & penulis yang ia tuangkan dalam buku investigasinya yang berjudul "40 Questions About 9/11", yakni tak hanya Yayasan Al-Haramain milik Pangeran Salman telah menjadi sumber pendanaan krusial bagi operasional Al-Qaeda, tapi juga ditemukan terlalu banyak bukti yang menunjukan setidaknya dua Pangeran Arab Saudi menyalurkan dana (atas nama Kerajaan) ke Osama Bin Laden sejak tahun 1995.
Ebook : 40 Questions About 9/11 Attacks by Harry Helms

Sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita mengenal sedikit aliran Salafi Wahabi yang berasal dari Arab Saudi ini. aliran ini dibawa pertama kali oleh M. ibn ʿAbd al-Wahhab, yang lahir tahun 1700-an (1100 tahun setelah era Nabi), membentuk aliansi dengan Ibn Saud bersama-sama membangun Arab Saudi, dan aliansi tersebut masih kuat sampai hari ini. Wikipedia: "Ibn ʿAbd al-Wahhab's pact with Muhammad bin Saud helped to establish the first Saudi state[12] and began a dynastic alliance and power-sharing arrangement between their families which continues to the present day in the Kingdom of Saudi Arabia.[13]"
WIKIPEDIA: Muhammad ibn ʿAbd al-Wahhab

Osama bin Laden adalah jihadis beraliran Salafi Wahabi. Jaringan terorisme global terbesar dunia Al-Qaeda (yang nantinya melahirkan ISIS) seperti Osama, juga beraliran Salafi Wahabi. Wikipedia: "many in the Wahhabi/Salafi movement (such as Osama bin Laden) focusing on jihad (Salafist jihadists) against the US and (what they believe are) other enemies of Islam.[178][179]. Al-Qaeda's Ideology: Salafist jihadism [1][2][3] Salafism / Wahhabism. It operates as a network comprising both a multinational, stateless army[48] an extremist wahhabi jihadist group.[49]".
WIKIPEDIA: Wahhabism
WIKIPEDIA: Al-Qaeda

Amrozi pelaku teroris bom bali semasa hidupnya menganut aliran Salafi Wahabi asal Arab Saudi ini. Wikipedia: "Amrozis' family were strictly religious, following the Wahhabist school of Islam which has its roots in Saudi Arabia." Hal senada dilaporkan oleh Doktor (S3) Yousaf Butt, penasehat senior di Dewan Keamanan AS-Inggris (British American Security Information Council), memberikan pernyataan tak lama setelah serangan ke Charlie Hebdo, bahwa Al-Qaeda maupun ISIS berasal dari sumber tunggal, yakni: aliran Salafi Wahabi Arab Saudi. Petikan artikel: "ISIS or its rival, Al-Qaeda, no matter which organizational connections , one thing is clear: the fountainhead of Islamic extremism that promotes and legitimizes such violence lies with the fanatical "Wahhabi" strain of Islam centered in Saudi Arabia."
WIKIPEDIA: Amrozi bin Nurhasyim
How Saudi Wahhabism Is the Fountainhead of Islamist Terrorism by Dr. Yousaf Butt

Berdasarkan penyelidikan tiga lembaga riset dunia, Brookings Institute Washington (BIW), Institute for the Study of War (ISW), dan The International Institute for Strategic Studies (IISS), Islamic State of Iraq & Levant (ISIL) atau ISIS dibentuk dari AQI (cabang Al-Qaeda di Irak) asuhan Abu Musab al-Zarqawi, tangan kanan Osama yang juga mantan anggota Hizbut Tahrir *). AQI yang beraliran Salafi Wahabi ini yang mengobarkan konflik Sunni VS. Syiah selama pendudukan militer AS di Irak.
Setelah al-Zarqawi berhasil ditewaskan, tampuk pimpinan AQI diwariskan kepada Abu Bakar al-Baghdadi (yang sekarang menjadi Emir ISIS). Transformasi AQI menjadi ISIS bertujuan untuk membantu Al-Qaeda Nusra menggulingkan Assad di Suriah, tidak akan terjadi tanpa sokongan dana dari Arab Saudi, Kuwait dan Qatar (dengan Saudi sebagai penyumbang terbesar). Petikan artikel: "Gulf State (Saudi, Kuwait, Qatar) donors five an estimated $100 million to rebels ISIS in 2013, with additional $30 million raised later."

*) Abu Musab al-Zarqawi a leader of al-Qaeda in Iraq (AQI), was a former members of Hizbut Tahrir.[4]
Telegraph
WIKIPEDIA al-Zarqawi
WIKIPEDIA Hizbut Tahrir

Sekedar perbandingan referensi dari Wikipedia, ISIL (Islamic State of Iraq & Levant), atau ISIS dibentuk dari Al-Qaeda in Iraq (AQI, atau cabang Al-Qaeda di Irak) beraliran Salafi Wahabi. Wikipedia: "The group (ISIS) originated as al-Qaeda in Iraq (AQI). Ideologies: Salafist jihadism. Salafism / Wahhabism [6][7]"
WIKIPEDIA: Islamic State of Iraq & Levant

Berdasarkan investigasi kantor berita tertua dunia New York Times, melaporkan bahwa Arab Saudi adalah Sponsor Utama yang bertanggung jawab menciptakan monster teroris Salafi Wahabi. Petikan artikel: "Saudi Arabia has been the official sponsor of Salafism across the globe. Saudi Arabia created the monster that is Salafi terrorism."
New York Times: Saudis Must Stop Exporting Extremism. ISIS Atrocities Started With Saudi Support for Salafi Hate

Berdasarkan riset Karen Armstrong, seorang peneliti & penulis buku ternama, akar ajaran ISIS berasal dari aliran Wahabi, dan Arab Saudi telah menjadi eksportir utama terorisme global. Pada Juli 2013, Dewan Parlemen Uni Eropa pun telah menyatakan Wahabi sebagai biang / induk semang terorisme global. Petikan artikel: "ISIS has its roots are in Wahhabism. Saudi Arabia exported the main source of global terrorism. In July 2013, the European Parliament identified Wahhabism as the main source of global terrorism."
Karen Armstrong, Wahhabism to ISIS: how Saudi Arabia exported the main source of global terrorism

Alastair Crooke, seorang mantan MI-6 (dinas intelijen Inggris), penulis buku "The Essence of Islamic Revolution", memberikan pernyataan: ISIS tidak bisa dipisahkan dari Wahabi-isme. ISIS adalah Wahabis fanatik yang ultra radikal. Petikan artikel: "There is nothing here that separates Wahhabism from ISIS. ISIS is deeply Wahhabist, ultra radical."
Alastair Crooke: You Can't Understand ISIS If You Don't Know the History of Wahhabism in Saudi Arabia

Patrick Cockburn, seorang jurnalis investigatif yang menetap di Timur Tengah sejak tahun 1991 melaporkan bahwa Pendanaan substansial untuk ISIS datang dari Arab Saudi, yang mana pemerintah Arab Saudi menutup sebelah mata. Petikan artikel: "He does not doubt that substantial and sustained funding from private donors in Saudi Arabia and Qatar, to which the authorities may have turned a blind eye, has played a central role in the ISIS surge."
Bahkan mantan Direktur dinas intelijen Inggris MI-6, Sir Richard Dearlove mengaku Pangeran Bandar pernah kasih bocoran bahwa ia punya rencana menghabisi para Syiah (lewat ISIS). Petikan artikel: "MI6, Sir Richard Dearlove. Prince Bandar told him: "The time is not far off in the Middle East, Richard, when it will be literally 'God help the Shia'. More than a billion Sunnis have simply had enough of them."
Iraq crisis: How Saudi Arabia helped Isis take over the north of the country

Hillary Clinton juga memberikan testimoni bahwa Arab Saudi adalah Sumber Dana Terbesar bagi jaringan terorisme global Salafi Wahabi, dari al-Qaeda, Taliban sampai ISIS. dan dukungan Arab Saudi tersebut telah masuk kategori State Sponsored Terrorism (terorisme yang didukung resmi oleh Negara). Petikan artikel: "Saudi Arabia is the world's largest source of funds for terrorist militant groups: Al-Qaeda, Taliban, ISIS, according to Hillary Clinton.[84]"

VIVA NEWS juga pernah menangkap testimoni Keponakan Raja Saudi Alwaleed bin Talal, mengakui bahwa kerajaan Arab Saudi mendukung dan memberikan bantuan dana bagi militan ISIS di Irak dan Suriah. Meskipun katanya Arab Saudi sekarang telah menghentikan bantuan tersebut (katanya). viva news

Namun setelah menerima peringatan berbagai tokoh dan lembaga-lembaga dunia, setelah menerima intel akurat dari FBI & CIA, setelah mendapat tekanan dari DK PBB, setelah menerima laporan anggota dinas intelijen sampai Dewan Uni Eropa, bahwa Arab Saudi telah menjadi sumber dana terbesar bagi terorisme global Salafis Wahabis dari Al-Qaeda sampai ISIS, tidak membuat blok Barat yang dipimpin oleh Amerika menggerakkan satu jaripun untuk menghukum Arab Saudi.
Afghanistan diinvasi & dibom hanya karena dituduh menyembunyikan Osama. Irak diinvasi & dibom padahal tidak terlibat dalam serangan 911. Rusia diberi sanksi hanya karena dituduh ikut-campur dalam konflik Ukraina. Tapi Arab Saudi yang jelas-jelas membiayai teroris Al-Qaeda untuk serangan 911, tidak diinvasi, tidak dibom, tidak diberikan sanksi, bahkan dijewer kuping pun tidak. Sebuah standar ganda yang menghina intelejensia.
Saudi yang lakukan 911, tapi Afghanistan, Irak, Libya & Suriah yang menjadi target
dan Saudi sebagai induk semang terorisme 911 tidak pernah menjadi target
Mengapa bisa begitu? mungkin ini bisa menjawab..
Senator Bob Graham, ketua Senate Intelligence Committee (komite intelijen senat AS), menyatakan bahwa jaringan teroris 911 mendapat dukungan finansial dari lingkar keluarga kerajaan Arab Saudi, dituangkan dalam Laporan 27 halaman Congressional Inquiry's Final Report tahun 2002. Testimoni Bob Graham: "the Bush administration and FBI blocked a congressional investigation into that relationship". Terjemahan: pemerintahan Bush dan FBI menghalang-halangi penyelidikan terhadap hubungan (Saudi & Teroris) tersebut.
Michael Scheuer, mantan kepala CIA Counter Terrorism Center (unit anti teroris CIA), memberikan pernyataan kepada Washington Post tahun 2005, "bin Laden family in the US are nearly completely off limits to US law enforcement.", Terjemahan: keluarga Bin Laden di Amerika hampir tidak bisa disentuh oleh penegakan Hukum. Senator Bob Graham juga menumpahkan kekesalannya akan kegagalan C.I.A. dan F.B.I menangani terorisme yang bersumber dari Arab Saudi yang ia tuangkan dalam bukunya yang berjudul "Intelligence Matters: The CIA, the FBI, Saudi Arabia, and the Failure of America's War on Terror"
Rekomendasi bacaan:
Intelligence Matters: The CIA, the FBI, Saudi Arabia, and the Failure of America's War on Terror (Random House Inc) by Senator Bob Graham

Simak juga testimoni seorang mantan marinir AS NAVY SEAL yang komplain akan lemahnya kebijakan pemerintah Amerika kepada Arab Saudi, bahkan ia sampai menyindir Obama tunduk kepada Raja Arab Saudi berikut ini:


Lalu mengapa Saudi ikut perangi ISIS? ini jawabnya..

Kantor Berita tertua dunia Reuters melaporkan bahwa PBB menegur Arab Saudi, dan meminta Arab Saudi patuh kepada Resolusi PBB dan berperan aktif membantu menghentikan aliran dana ke ISIS dari donatur-donatur di Arab Saudi. Semenjak ditegur PBB inilah, Arab Saudi "bersandiwara" bergabung dengan pasukan koalisi memerangi ISIS (karena takut kena Sanksi PBB). Petikan artikel: "Saudi Arabia agreed to comply with a United Nations resolution aimed at stopping financing for Islamist militant groups in Syria and Iraq."

Sebagai penutup Bagian Pertama, mari kita dengarkan testimoni negarawan AS Ron Paul, kandidat Calon Presiden AS yang juga congressman (anggota DPR AS), jelas bukan orang sembarangan. Beliau bersaksi di depan parlemen, memaparkan fakta-fakta terorisme, C.I.A. dan Timur Tengah berdasarkan apa yang ia ketahui, (ini bukan opini beliau, tapi sebuah testimoni)

1 komentar:

  1. Assalamualaikum wr.wb mohon maaf kepada teman teman jika postingan saya mengganggu anda namun apa yang saya tulis ini adalah kisah nyata dari saya dan kini saya sangat berterimah kasih banyak kepada Mbah Rawa Gumpala atas bantuan pesugihan putihnya tampa tumbal yang sebesar 15m kini kehidupa saya bersama keluarga sudah sangat jauh lebih baik dari sebelumnya,,saya sekaran bisa menjalanka usaha saya lagi seperti dahulu dan mudah mudahan usaha saya ini bisa sukses kembali dan bermanfaat juga bagi orang lain,,ini semua berkat bantuan Mbah Rawa Gumpala dan ucapa beliau tidak bisa diragukan lagi,bagi teman teman yang ingin dibantuh seperti saya dengan pesugihan putih bisa anda hubungi di no 085 316 106 111 jangan anda ragu untuk menghubuni beliau karna saya sudah membuktikannya sendiri,karna Mbah tidak sama seperti dukun yang lain yang menghabiskan uang saja dan tidak ada bukti sedankan kalau beliau semuanya terbukti nyata dan sangat dipercay,,ini unkapan kisah nyata dari saya pak Rudi di semarang.Untuk lebih lenkapnya silahkan buka blok Mbah di 🐣PESUGIHAN PUTIH TANPA TUMBAL🐣

    BalasHapus